Penulis Gadungan
Keingan menulis itu sudah lama ku pendam, semenjak mulai mengenal huruf dan bisa membaca. Dulu buku tulis selalu penuh dengan tulisan random dan gambar-gambar abstrak tak menentu. Biasanya yang jadi surga menulisku saat itu adalah halaman belakang buku tulis. entah kenapa saat menulis dihalaman paling belakang menjadi kebagahagian tersendiri bagiku. Sensasi yang berbeda saat guru harus mendikte pelajaran dan harus dicatat di buku tulis. Mungkin itu alasan kenapa setiap mata pelajaran mengarang, aku selalu dapat nilai yang tinggi. hehehe
Biasanya isi dari halaman belakang buku tulis adalah suasana hati ataupun kalimat yang lagi happening di kepala saat itu, tak lupa bersama nama abang-abang cakep pujaan hati tetangga dekat rumah. Seperti biasa kalau ketemu saat berangkat sekolah, akan kutuliskan namanya bersama hiasan dan hati serta tulisan namaku. "Hary cinta aku" , "Pius sayang aku" hahahahaha tanpa kupahami sebenarnya apa yang sedang terjadi padaku. Bisa naksir tiga abang-abang sekaligus, abang-abang tetangga komplek.Padahal kalau lewat depan rumah salah satu abang tersebut kepala menunduk dan muka memerah. Entahlah, mungkin itu yang dikatakan cinta monyet.
Saat SMP juga sempat menulis cerpen yang tokoh didalamnya itu temen sekelas semua, begitu lanjut sampai SMA. Mungkin kalau friendster masih ada saat ini, setidaknya ada beberapa tulisan yang masih bisa dikenang. Soalnya dulu lumayan rajin kewarnet cuma buat nulis ulang curhatan dari balik buku tulis ke dunia maya.
Bahkan hobi tulis halaman belakang juga masih berlanjut sampai semester akhir kuliah.
Entah kenapa saat menulis, aku bebas menyampaikan maksudku sampai selesai tanpa perduli bagaimana ekspresi seseorang saat membaca tulisanku. Bagiku saat menulis, aku bisa menjadi siapapun yang aku mau.
Jadi waktu itu perasaan hati sedang gundah gulana galau tak menentu, akibat putus dari sang mantan. Ceritanya waktu itu ribut dan putus akibat ulah sendiri, namun kesel kenapa saat minta putus, eh sang mantan malah "meng-iyakan" bukannya menolak, soalnya ini udah ke 10 kalinya minta putus. hahahaha mungkin doi capek kali ya
Yaudah abis nangis sesenggukan, tiba-tiba rasanya pengen luapin perasaan, tapi bingung sama siapa. Akhirnya ngambil pulpen dan kertas, mulai lah menulis suasana hati yang sedih dan bercerita kisah pertemuan sampai perpisahan di detik itu.
Dan pada akhirnya semua hasil tulisan hilang tak berjejak karna buku-buku dari jaman sekolah sampai kuliah, musnah tak berjejak.
Biar semakin mendramatisir, tak lupa menuliskan tanggal jadian dan perpisahan. Habis nulis dan berurai air mata,tiba-tiba temen sebelah kosan masuk ke kamar. Tiba-tiba reflek nyimpen kertas di balik bantal. "maneh kunaon?" tanya sang temen, "gak apa-apa" jawabku. "Putus sama doi?" lanjutnya. Berhubung terlanjur basah, ketauan lagi nangis, yasudah akhirnya cerita, dan tak lupa kertas yang habis ditulis tadi, minta dibacain sekalian. Abis itu terjadilah revisi.. hahahahaha.. (buk ini tugas kuliah, apa jeritan suara hati aisyah? duh berbie jadi malu..)
"yang ini mending ganti dengan kalimat yg begitu deh,harus lebih di dramatisir" (duh.. tetep yee mau curhat aja pake di sela.. hahahaha). Setelah direvisi, gak lupa dibaca ulang, setelah mantap dengan isinya, lanjut sms sang mantan. "makasih ya buat semuanya, maaf kalo berakhir seperti ini, sekarang kita jalani maaing-masing. tolong kamu ambil semua barang pemberian mu, aku mau belajar tanpa kamu"
HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA (sumpah demi apapun eyke pernah alay ya mak !)
Tak lama kemudian, sang mantan pun datang. Lalu kuberikan secari kertas yang sudah di revisi tadi. Trus doi ngomong "kamu mau nya gimana?" kemudian hening dan scene fenomenal teletabies pun terjadi, berpelukaaaaaan. Hahaha
gak jadi putus.
Dulu sempat nulis blog juga, tapi 3 tahun yang lalu sengaja aku delete. Gak tau kenapa waktu itu gak pengen setiap ngetik nama ku di google, tautan blognya terlihat, total mungkin ada 4 blog.
Menulislah sampai kamu ingin berhenti menulis, menulislah sampai setiap untaian kalimat dipikiran mu habis, kemudian berhenti dan bacalah tulisan mu. Jangan pernah berhenti menulis saat ribuan bahkan jutaan kata masih tersisa dikepalamu, karna setiap kamu berhenti dan membaca tulisanmu, saat itu juga kamu akan lupa apa yang ingin kau sampaikan melalui tarian jemari mu diatas keyboard.
salam,
penulis gadungan.
Komentar
Posting Komentar