Society based on equality yang BIAS

Society based on equality yang BIAS 

Beberapa hari lalu, aku lagi asik liat-liat postingan di facebook. Paling suka me- repost postingan berupa video yang menurutku menarik, misalnya video tentang resep makanan, jokes cerdas maupun life hacks / diy ketimbang menuliskan status di facebook atau mengomentari status teman.

Buatku di usia saat ini, membagikan sesuatu di media sosial harus berpikir dua kali. Aku tidak ingin di judge melalui kegiatan di dunia maya, untuk itu aku sedikit behave di halaman facebook. Kalaupun aku harus cuap-cuap sampah tak menentu, aku pasti memilih acoount social yang lebih sepi saat ini. Ibarat kata, aku hanya tidak ingin nyampah di khalayak umum.
Saat melihat cuplikan video yang bagus, biasanya ku repost di halaman facebook.
Kali ini saat melihat video berikut, aku berpikir keras, apa sih yang mau di sampaikan oleh sang pembuat video.

Kira-kira berikut sinopsis singkatnya :
Dalam kelas matematika, ada 3 orang murid : simon, penelope dan sunshine bersama seorang guru wanita. Diceritakan dalam video tersebut ketiga murid yanga ada di dalam kelas itu memiliki kekurangan masing-masing. Semakin banyak "kekurangan" yang dimiliki akan memberikan nilai plus tersendiri dari sang guru. Kemudian masuklah satu murid pria yang cerdas dan normal pada hakikatnya. Dia berbicara dan berpikir layaknya manusia normal lainnya, bahwa di kelas matematika setiap angka adalah angka secara hakiki. Kemudian guru melempar pertanyaan:
Guru                         : "berapa 1 + 1= ? "
Murid normal           : "dua bu guru"
Guru                         : "salah"
Simon                       : multiculturalism
Guru                         : Correct !, well done Simon

Lanjut pertanyaan kedua 

Guru                         : "what is three times three?  "
Murid normal           : "9"
Guru                         : "salah"
Penelope                   : "Gender equality / kesetaraan gender"
Guru                         : Very good penelope

Akhirnya murid normal komplain dengan keanehan jawaban di kelas matematika. dan Gurunya menyalahkannya. Lalu sang guru menanyakan tugas research yang di berikannya,dan mengatakan bahwa nilai yang paling tinggi akan terbang ke Newyork untuk memprsentasikannya di world mathematical summit. Singkat cerita bahwa murud normal keberatan dengan penilain guru yang menilai berdasarkan kekurangan phisically, bukan berdasarkan teori matematika secara hakiki. Intinya para murid yang aneh tersebut menuntut Equality. Dan mengatakan bahwa Feelings are more important than facts. Oh Come on, ini asal akan menjadia asal muasal petaka. Oke, abaikan mengenai pembahasan gender dan religi . 

Yang ingin saya bahas adalah :
  • mereka berada di kelas matematia, selayaknya yang di bahas di dalam kelas matematika adalah angka-angka secara hakiki
  • bahwasanya simbol-simbol di dalam matematika terkait pengolahan angka-angka, tidak layak diasosiasikan menjadi simbol SARA ( Suku, Agama, Ras dan Antargolongan)

Sedikit membahasa mengenai Society based on equality, atau Kesetaraan sosial adalah keadaan di mana semua orang dalam masyarakat tertentu atau kelompok terpencil memiliki status yang sama dalam hal-hal tertentu, termasuk hak-hak sipil, kebebasan berbicara, hak kepemilikan dan akses yang sama terhadap barang dan layanan sosial tertentu. Namun, itu juga mencakup konsep ekuitas kesehatan, persamaan ekonomi dan sekuritas sosial lainnya. Ini juga mencakup kesempatan dan kewajiban yang sama, dan juga melibatkan keseluruhan masyarakat. Kesetaraan sosial mensyaratkan tidak adanya batasan kelas sosial atau kasta yang sah dan tidak adanya diskriminasi yang dimotivasi oleh bagian identitas seseorang yang tidak dapat dipisahkan.

Misalnya, jenis kelamin, ras, usia, orientasi seksual, asal, kasta atau kelas, pendapatan atau properti, bahasa, agama, keyakinan, pendapat, kesehatan atau kecacatan tidak boleh mengakibatkan perlakuan yang tidak setara berdasarkan hukum dan tidak boleh mengurangi kesempatan yang tidak dapat dibenarkan.


Jika hal yang ingin di tekankan oleh sang guru adalah Society based on equality, maka kenyataan  yang terjadi adalah Society based on equality yang bias. Sangat bertolak belakang terhadap makna yaang terkandung dari Society based on equality itu sendiri. Sebab seharusnya yang terjadi adalah : 

  1. Tidak ada point khusus terhadap murid yang memiliki kekurangan, sebab yang di bahas di dalam kelas adalah matematika, penjumlahan dan pengolahan angka-angka bukan meng-asosiasi-kan simbol-simbol menjadi fenomena sosial 
  2. Murid yang normal didalam kelas( minoritas), malah terlihat "aneh" diantara murid-murid yang menyimpang, saat dia menyampaikan segala sesuatu pada konteksnya. misal menjawab pertanyaan matematika guru selayaknya pengolahan angka.
Kalau boleh manarik kesimpulan dan menggambarkan dengan fenomena yang terjadi di kancah perpolitikan indonesia, ini ibarat kasus yang menimpa bapak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. 

Murid yang normal digambarkan oleh Pak Ahok , dia bekerja selayaknya hak dan kewajibannya sebagai Gubernur DKI, dimana pada hakikatnya beliau adalah wakil rakyat yang seharusnya melayani rakyat, memberantas korupsi dan penyimpangan lainnya. Namun karna apa yang beliau lakukan menjadi aneh disaat kebanyakan orang menyalahgunakan jabatan dan korupsi,  ia harus di musnahkan. Hanya karna apa yang dia ucapkankan dan lakukan dibiaskan dan di asosiasikan menjadi tindakan penistaan agama. Penistaan agama oleh sekelompok (golongan yang jumlahnya lebih banyak dari golongan ahok). Feelings are more important than facts, maka "yang normal dan hakiki harus dimusnahkan" by Penulis Gadungan

Komentar